window.dataLayer = window.dataLayer || []; function gtag(){dataLayer.push(arguments);} gtag('js', new Date()); gtag('config', 'UA-189082879-1'); TULISANKU

Minggu, 14 Desember 2025

       Singgah untuk sejenak. Mencari, menapaki kediamanmu semasa itu. Aku bergumam, bukan hanya saja mimpi yang berkecamuk di benak. Lentera malam membasahi wajah gersang. 

Gustikah kamu ? Bukan. Ia bukan Gusti. Hanya menyerupai saja. Mengapa kamu ada disini. Mengapa pula terdiam? Jika memang bukan Gusti lebih baik pergi dari sini. Sebab aku hanya inginkan Gusti.

Sekejap saja lentera malam membawanya pergi. Dalam bayangan aku tak sempat memapah langkahnya. Sedemikian aku mengerti bahwa memang benar ia adalah Gusti. Dulu kau pergi. Kau yang meninggalkan aku. Bertahun aku selalu mencarimu, menanti kedatanganmu kembali. Kini dalam bertahun sudah terbiasa kesendirianku tanpa dirimu.

Lelap. Dalam sepertiga malam aku terjaga. Bayangmu menghentakkan mimpiku. tak ayal helaan nafasku menjadi tersengal. Gusti kau dimana...? Gumamku. 

Selasa, 13 Mei 2025

        _ MONOLOG DIRI_

Banyak cerita di pagi hari yang aku tuangkan disisi ingatanku. Baik itu cinta sampai keseimbangan dalam hidup. Bonusnya adalah bagian hati yang tak pernah dijamah oleh nurani cinta.

Aku mengenal bnayak sekali akan hal itu. ya cinta. Sampai saat ini aku merasakan sakit hati karena dimainkan cinta. Sakit sekali. Tapi ya sudah aku biarkan saja. Habis mau dikata apa. Wong semua sudah berjalan dan berlalu. Ga bisa aku pungkiri.

Jejakku saat ini tidaklah lain adalah sesekali mengingat akan masa dulu aku bersamanya. Bukan kamu, juga bukan dia. Aku hanya ingin ingat kepada Tuhan. Karena Dia yang selalu membuat hatiku nyaman dan mampu membuat aku berdiri di jalanNya.

Bangun tidurku semakin usang dengan cerita yang dulu indah ketika pagi. Kini semakin suram cerita diwajahnya. Absrak tidak seperti dulu. Selalu dan selalu berdua. Minimal ia membuatkan kopi untuk aku lelakinya.

Kembali ke cerita awal. Semilir angin membawa aku di tahun silam. Ketika aku masih rajin belajar di bangku sekolah. Masa remaja, masa dimana banyak wanita yang simpati dengan penampilanku yang unik. Ada yang bilang kuno, ada juga yang bilang urakan, ga jelas gitu. Aku sih enjoy aja. Ga pernah aku perdulikan dengan perkataan orang. Sebab yang aku jalani semua sudah pas. Tepat. Kalau menurut mereka ada yang salah dari yang aku kenakan ya itu persepsi mereka. Biar saja. Semua orang berhak menilai karena memang mereka yang bisa menilai.

Segitu saja. Aku terus berjalan, terus belajar sampai akhirnya aku dinyatakan lulus oleh guru yang sebenarnya tidak menginginkan kelulusanku. Aneh. Kenapa? Karena sayang atau otakku belum mampu untuk ke jenjang berikutnya. Uhh benar saja, tapi nyatalnya aku lulus. Walau dengan nilai yang serba pas pasan. Sungguh prihatin.

Aku tidak bisa apa apa tentang kurikulum belajar. Seringnya semua siswa seperti sudah menjadi wajib untuk menyontek berjamaah.

Dulu dan sekarang sama saja, seperti sudah menjadi adat{nyontek} . Guru bukannya tidak tahu. Mereka lebih tahu, tapi ya sudah. Gurunya pun molor,

Keinginanku menjadi penulis. Tapi belum tersampaikan. Entah kapan, aku tak tahu. Tapi aku yakin suatu saat karya karyaku banyak diminati dan dibaca orang. Segala sesuatu yang terus di usahakan dan di upayakan pasti ada hasilnya. Aamiin. Aku sangat yakin itu. Meski terkadang rasa yakin menjatuhkan keyakinanku ketika sebuah media selalu menggagalkan jalanku. Belum memenuhi syaratlah, masih banyak yang kuranglah, harus diperbaikilah. Oke aku selalu terima. putus asa, boring, jenuh pasti ada. Tapi aku terus mencoba apa yang mereka ingini.

Mulai belajar menulis. Mulai belajar mengapresiasikan setiap kejadian. Baik itu ilusi maupun realita. Mulai sering mencari kata kata yang seperti pujangga. Imajinasi terlontar ketika aku disakiti oleh wanita. Dihianati. Banyak sekali kata kata yang aku curahkan lewat kertas dan pena. Karena saat itu belum ada digital.

Sampai kini sudah banyak tulisanku yang menurutku lumayan bagus. Menurutku lho. Sehat dan tawakal intinya. Edisi berikutnya kalian tinggal kunjungi saja blog ku...... Terimakasih.

Minggu, 19 Desember 2021

PUISI BEBAS 4 BAIT

 

 TEMA CINTA

CINTA ADALAH UNGKAPAN HATI.. SEMUA ORANG MENGENAL AKAN CINTA, BAIK USIA BELIA SAMPAI MANULA. KADANG KALA SESEORANG BICARA TENTANG CINTA IALAH IA SEDANG MERASAKAN JATUH CINTA ATAU TERPANA DARI CINTA ITU SENDIRI. DAN KALAU SUDAH BEGITU PASTILAH TERCIPTA KATA KATA YANG INDAH, YANG MANIS SERTA ROMANTIS. JADILAH BAIT BAIT PUISI YANG DATANG DARI HATINYA.

 Jantung, Cinta, Matahari Terbenam

 

SEBAB CINTA ADALAH HATI

 
Kupinta padamu agar mencintaiku dengan tulus
Sebab cinta itu adalah hati
Selain kedamaian yang kau dapat,
Kau jua akan selalu dihargai oleh ketulusan
Percayalah sayang, aku takkan menyakitimu
 
Segala apa akan kau dapati
Setelah bunga cinta mengembang dalam diri
Kau akan tersenyum menyambut harumnya
Anggap saja itu anugerah dari buah cinta yang kita pupuk

Seperti burung pipit hinggap di dahan
Berparuh setelah berkejar kejaran
Membelah buana cakarawala angkasa
Seakan tahu ia tentang kisah kita

Disana akan terlihat pelangi
Terbentang melintasi langit sore nan indah
Kau boleh ikut serta dengannya
Karena kau adalah bidadari dalam doa
***
Jakarta, 02052021. Papafrenk
 
 
 TITIP RINDU
 
Kutitip rindu buatmu disana
Yang senantiasa menanti
Datang membawa kasih
Dengan hati

Setiap hari merindu
Menunggu
Datang,,,
Dengan kesucian cinta
 
Mengharap 
Seperti tiada henti
Hujan badai tak peduli
Ialah saksi
 
Rindu ini untukmu
Terimalah
Simpan dihatimu
Yang paling dalam
***
Jakarta, 261002. Papafrenk


MASA LALU
 
Lupakanlah kenangan pahit itu
Yang dulu pernah melelahkan jiwa
Dan kini sambutlah cinta
Manis untukmu selamanya
 
Biarlah terkubur
Dalam masa lalu
Semoga tak terulang lagi
Dalam cinta kita
 
Musnahlah
Buang jauh jauh
Rasa tak percaya
Cintaku nyata hanya untukmu
 
Dan kita jalani berdua
Bersama menjemput impian
Penuh kemesraan
Penuh kehangatan 
***
Jakarta, 271002. Papafrenk


WAKTU TERUS BERJALAN

Waktu yang berjalan
Seiring langkah kita bersama
Biar menjadi saksi
Nyata adanya

Waktu yang berjalan
Berganti hari
Dengan malam
Menyibaki nostalgia kita

Waktu yang berjalan
Mengiringi bayang
Bulan bersinar
Bintang berkilau
 
Waktu terus berjalan
Demi cinta kita 
Berjanjilah
Nikmati adanya
*** 
Jakarta, 281002. Papafrenk


MIMPIKU UNTUKMU
 
Tidurku semalam bermimpi tentang kamu
Yang datang dengan kelembutan
Hangat terasa
Senyummu indah
 
Kau laksana bidadari
Yang menjelma lewat tidurku
Kau seperti embun
Yang datang di pagi hari
 
Mimpiku bersamamu indah
Serasa sempurna
Kau baik
Bersahaja
 
Malam ini milik kita
Ditemani angin
Disuguhi surga
Oh malamku, terimakasih segala keindahanmu
*** 
Jakarta, 061102. Papafrenk
 
 
NAMA ITU
 
Sebentar,
Aku akan menulis namamu
Berikan pena itu
Sebentar saja
Biar ku ukir di hati
 
Lihatlah,
Indah bukan ?
Seolah tersenyum
Nama itu
 
Sadarkah kau
Amati dalam dalam
Ajak ia bicara
Sentuh hatinya
 
Ia menangis
Lalu tertawa
Menari
Dan akhirnya
Bersemi
***
Jakarta, 191221. Papafrenk
 
 
 
 
 
 
 

Kamis, 16 Desember 2021

KOLOM CERMIN [Cerita Mini]

 AKU LELAKIMU

Oleh : Papafrenk

Gelap, Mudah Marah, Suasana, Kreatif
 
 
 
" Mas, kamu kenapa  ga' mau balas chatku. Kamu sehat kan mas " Dalam chatmu.
"Aku sehat " Balasku melalui hati.
Seiring kelopak mata yang menghangat.
Dan butiran air bening yang menetes.

Sengaja aku ga' angkat saat kau menelepon. Chatmu juga aku ga' balas. Biarkan saja. Aku ga' mau mengganggu kamu yang sudah bahagia disana. Aku khawatir kalau kita sampai ada komunikasi lagi, entah gimana. Sebab itu lebih baik tidak usah ada kabar sekalipun.Yang terpenting kita sama-sama sehat. Aku ga' mau terus mengeluh. Selalu kuhindari segala apapun yang tentangmu. Agar aku tetap tegar. Kau menyembunyikan kebahagiaan yang seharusnya masih kita jalani. Kau melangkah yang bukan arahmu. Entah apa rencanamu. Jikalau hati damai yang kau cari?  Bukankah saat denganku kau merasakan itu!

Pagi ini seperti biasa matahari panas membangunkan ku dari bilah jendela yang sedikit terbuka.
Ku sambut aromanya. Ku ciumi pucuk pucuk mawar. Ku peluk bias pelangi tanpa warna. Sekejap riangku sirna. Mana kopiku. Mana sarapanku.Kemana kamu. (Melakoni ketiadaanmu yang sudah pergi). Hahaha... Beberapa minggu ini 'kan aku sendiri. Makan sendiri. Bikin kopi sendiri. Dudukpun sendiri.
Di sebelah sana ada kursi yang biasa kau singgahi untuk sekedar berbincang denganku.
" Mas..." Begitu sapaanmu.
Sekarang sudah tidak ada lagi mas atau apapun menyapaku. Paling tukang warung sebelah yang mengantarkan nasi pesananku. Aku belum terbiasa tanpamu. Masih selalu menganggapmu ada disini.
Hatiku menangis jika ingat itu semua. Ga' kuat rasanya. Padahal aku laki laki.Yaahh,,, mau di kata apa. Kenyataannya memang seperti ini.

Sengaja tak ada yang ku ubah dari tata letak kamarku. Biar saja seperti semula. Semua barang peninggalanmu tetap berada pada posisi awal. Satu persatu ku jelajahi. Perih memang, tapi terlebih aku hanya ingin menghormati kepergianmu yang sangat tiba tiba. Hingga akhirnya nanti aku terbiasa dan benar benar bisa melupakanmu. Mungkin saja kau kembali. Meskipun takkan mungkin.
Harum aroma parfummu masih terasa di hidungku. Lekat sekali. Senyum manismu di cermin masih tergores di kala pagi saat kau berdandan bersiap berangkat kerja. Apalagi yang ku ingat dari dirimu. Semua. Ya semua. Tidurmu yang selalu lebih awal dariku. Sampai gayamu aku hafal.
Secara kita hidup bersama sudah lebih dari 5 tahun. Masa iya aku ga' tahu.

Sampai akhirnya kau memilih pergi dariku. Kau putuskan secara spontan.
" Mas, aku minta cerai dari kamu."
Astagfirullah.... Sontak hatiku kaget bukan kepalang. Ini apa sebenarnya, ada apa sih. Ku tengok langit, cerah cerah saja. Tidak hujan. Lalu kenapa kamu berkata seperti itu.
Wahai wanitaku,,, apa yang sedang kau inginkan? Apa yang akan kau lakukan! Permainan apa ini. Sungguh aku ta kmengerti.

Bak di sambar petir aku mendengarnya. Tapi aku mencoba tenang. Beberapa saat kemudian aku minta
penjelasan padanya. Dan keluarlah jawaban yang tetap tidak mengenakan telinga.
"Aku sudah tidak mau lagi sama kamu mas."
Jujur. Aku masih belum mengerti. Apa sih yang kamu bawa dari kampung sana! Hingga kau berubah! Apa...!? Pekikku dalam hati.
Seminggu kamu di kampung,  datang ke jakarta tiba-tiba minta cerai.
" Maafkan aku mas. Sebenarnya sebelum pulang kampung aku mau ngomong sama kamu, tapi takut kamu kepikiran."
Ahk bullshit...! Itu hanya bisa bisa kamu saja. Aku yakin pasti ada omongan lain dari keluargamu. Karena mereka tidak tahu kalau kita  sudah menikah. Walaupun hanya sirri.
Aku punya filling dan yakin pasti keluargamu ingin menjodohkanmu dengan laki laki lain disana. Begitu 'kan !
Baik ! Baik ! Kalau memang itu yang kamu inginkan!  Aku turuti. Tapi aku minta satu syarat. Silahkan kamu izin kepada orang tuaku dan selesaikan dulu urusan kita. Karena dulu kita menikah, orangtuaku yang urus semua! Setelah itu...! Pergilah kau jauh jauh.
Membatin sampai aku lepas kendali. Segala kebodohan telah terjadi pada diriku. Kata kata  makian semua sudah kulontarkan meskipun hanya dalam hati. Sesakit apapun hatiku. Tetap aku tak bisa bicara kasar dihadapan  wanita. Sebab ibuku seorang wanita, yang melahirkan dan membesarkanku. Makanya aku lepas kekesalan itu di depan cermin ketika malam saat kamu sudah tidur. Sambil sesekali air mataku menetes. Tuhan yang selalu ada untukku. Aku yakin semua akan berlalu dengan baik.

Malam semakin meninggi. Aku masih diam di sisi jendela kamar. Sesekali ku tatap fotomu di dinding kamar. Kau telah pergi. Ruangan ini sepi tanpamu.
Malam ini genap sebulan aku berjalan tanpamu. Entah sampai kapan rasa ini akan berakhir.
Resonansi hidupku seperti halnya kerbau yang di cucuk hidungnya.
 
"Aku tak menganggap dirimu salah.
Mungkin aku yang tak sanggup memberimu bahagia.
Disisi lain jangan lagi ada hati yang kau buat sakit.
Atau jangan kau yang disakiti.
Kau tak akan sanggup untuk menahan.
Biar aku saja yang rasakan.
Seperih apapun tetap akan aku jalani.
Selamat tinggal, semoga bahagia..."-masmu-
***
Jakarta, 31 juli '21 [Papafrenk]

CONTOH PUISI AKROSTIK

PUISI AKROSTIK 

adalah puisi yang ditulis berdasarkan huruf-huruf awal dari sebuah kata/kelompok secara vertikal dari atas ke bawah.


puisi akrostik tuhan adalah segalanya


TUHAN ADALAH SEGALANYA


Terkadang aku malu akan keteledoranku. 
Untuk tidak sepenuhnya menjalankan perintahMu.
Hanya saja aku tak kuat untuk meronta.
Andai kau tahu, betapa aku ingin kau tuntun.
Niscaya agar aku tetapa dijalanmu.

Allah maha segalanya.
Dalam doa kupanjatkan seluruh inginku.
Agar aku dapat ridhoMu kelak.
Lama ku mendambakan keikhlasanMu.
Ambang menuju kebahagiaan ku raih.
Hamparan langit luas adalah ragaMu.

Sungguh aku merindukan kasihMu.
Entah mimpi apa yang aku rasa.
Getarannya begitu dahsyat di jiwa.
Aku hamba yang lemah di khadiratMu.
Lusuh kaki melangkah menghadapMu.
Adakah secercah harapan yang kau beri.
Napak tilas kembali diri ini.
Yang lama telah melupakan ajaranMU.
Akulah insan papa yang butuh bimbinganMu ya Allah.
***
Papafrenk, 020521
 
 
RINDU KAMU 
 
Rasa yang selama ini bernaung dihati.
Ingin ku memelukmu dalam imagi tinggi
Namun apakah mungkin aku bisa mewujudkan.
Dengan segala keindahan hati ini aku memohon.
Untuk kiranya engkau sudi ku peluk.
 
Karena ku hanya ingin mencintaimu.
Akankah kurasa rindu semakin dalam.
Manakala mengingatmu sepanjang hari.
Usahlah kau menjauh dari diriku sayang. 
***
Papafrenk, 010521 
 
 
KASIH BUNDA 
 
Kasihmu ku rindukan sepanjang masa.
Abadi hingga usiamu renta.
Sejuk dan selalu menjadi inspirasiku.
Impian selama ini dalam hidupku.
Hadir dimana tempat ku berada.
 
Bagai mata air yang tak pernah mengering.
Umpama ku lentera di kehidupanmu.
Nyanyian kasih serapahkan janji.
Dalam tidurku ingin bermimpi memelukmu.
Agar aku bisa senantiasa menjagamu bunda.
***
Papafrenk, 010521
 
 
JANJI HATI 

Jangan pernah dustai hati.
Andai kau mencintai.
Nanti akan ada kecewa.
Itulah cinta.

Harus kita renungkan.
Apa yang kita rasa.
Tuk sekedar napak tilas.
Izinkan ku rangkai kata.
***
Papafrenk, 151221
 
 
INDONESIA BERBAKTI 

Impianku sangat sederhana.
Nyata adalah keinginan semua insan.
Doa serta usaha yang paling utama.
Om swastyastu untuk kita semua.
Niscaya negara  tentram.
Engkau ku sanjung setinggi langit.
Seperti rembulan yang bergantung.
Indah nan asri alam kami.
Angkasa menyongsong kedamaian.

Bijaksanalah wahai sang penguasa.
Engkau punggawa kami.
Rakyat merindukan perdamaian.
Bersama pengorbananmu untuk negeri.
Andai saja segalanya bisa terjadi.
Keteladananmu menjadi hakiki.
Terus sisihkan egomu untuk pribadi.
Ibadah dan ikhtiar adalah kunci sejati.
***
Papafrenk, 151221